kebun raya purwodadi

Mendekati Garis Akhir, Tim Jelajah Bhumi Singgah di Kebun Raya Purwodadi

JAGA BHUMI (Pasuruan) – Persinggahan tim Jelajah Bhumi hampir menuju akhir ketika mereka tiba di Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur pada Sabtu (28/04/2018). Di kebun raya ini, pengetahuan tim Jelajah Bhumi seputar kebun raya bertambah saat menyaksikan berbagai tanaman dan tumbuhan dataran rendah yang menjadi koleksi dari kebun raya yang saat ini berumur 77 tahun.

Kebun Raya Purwodadi merupakan kawasan konservasi yang didirikan pada tanggal 30 januari 1941 oleh ahli botani dan mikrobiologi kebangsaan belanda Dr. Lourens Gerhard Marinus Baas Becking atas Prakarsa Dr. Dirk Fok van Slooten (Direktur Kebun Raya Bogor) pada saat itu. Mula-mula kebun raya ini dipergunakan untuk penelitian perkebunan kemudian pada tahun 1949-1954 mulai diterapkan perkebun rayaan dengan petak-petak tanaman koleksi.

Conservation Expert Yayasan Kebun Raya Indonesia (YKRI) Sudjati Budi mengatakan, Kebun Raya Purwodadi memang spesial karena merupakan kebun raya satu-satunya yang saat ini secara khusus mengkonservasi jenis-jenis tanaman dataran rendah kering. Selain itu, posisinya di jalan poros Surabaya dan Malang yang padat menjadikan kebun raya ini tidak hanya sebagai kawasan konservasi namun juga tempat wisata dan relaksasi.

“Kebun Raya Purwodadi dipilih sebagai tempat akhir untuk kunjungan tim Jelajah Bhumi karena posisinya yang berdekatan dengan kota Surabaya yang merupakan etape terakhir,” ujar Djati saat ditemui di Kebun Raya Purwodadi, Sabtu (28/04/2018).

Menurut Kepala Kebun Raya Purwodadi Deden Mudiana, Kebun Raya Purwodadi berada di lokasi pada ketinggian 300 meter di atas permukaan laut dan termasuk area dengan perbedaan antara iklim musim hujan dan musim kemaraunya terlihat jelas. Di daerah ini, tumbuhan akan kering dan merontokkan daunnya saat musim kemarau. Vegetasi yang cocok di daerah ini lah yang menjadi prioritas koleksi di Kebun Raya Purwodadi.

Deden mengatakan, dari total luas lahan 85 hektar, hampir semua area di kebun raya ini sudah dikembangkan. Hanya dua hingga tiga hektar yang tidak ditanami. “Di sini berisi tumbuhan dengan karakter dataran kering, jadi ada mahoni, jati dan lainnya. Ketika musim kemarau, daunnya rontok dan kering semua, kemudian akan hijau lagi. Itu ciri khas Kebun Raya Purwodadi,” ujar Deden.

Selain itu, kebun raya ini juga mengoleksi kelompok tumbuhan polong-polongan, seperti samanea, akasia, dan kacang-kacangan. Seiring berjalannya waktu, kebun raya Purwodadi juga menambahkan tumbuhan jenis epifit yang banyak hidup di daerah dataran rendah kering.

“Selain itu, ada koleksi bambu, obat-obatan, anggrek, hoya, manga, dan uwi. Saat ini koleksi tanaman dari Kebun Raya Purwodadi jumlah spesiesnya sebanyak 1.900 spesies dan memiliki 11.000 spesimen,” kata Deden.

Dari seluruh tumbuhan yang menjadi koleksi Kebun Raya Purwodadi, 57 di antaranya merupakan jenis-jenis yang masuk kategori terancam versi IUCN (International Union For Conservation of Nature) seperti jenis pohon Margasorea, beberapa jenis palem, dan jenis manga.

Deden mengatakan, dirinya berharap keberadaan Kebun Raya Purwodadi bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas sebagai tempat belajar tanaman, konserasi, penelitian dan wisata.

“Melalui kegiatan Jelajah Bhumi, kami berharap bisa membangkitkan kepedulian dan kecintaan masyarakat terhadap tumbuhan khususnya generasi muda. Bersyukurnya bahwa kebanyakan pengunjung datang dari anak-anak muda yang mungkin memang juga banyak spot foto yang bagus di Kebun Raya Purwodadi,” pungkas Deden.

Sebagai informasi, touring sepeda Jelajah Bhumi dimulai tanggal 12 April di Jakarta dan berakhir di Surabaya pada tanggal 29 April 2018. Sesuai dengan misi Jelajah Bhumi yaitu menaikan pamor Kebun Raya di Indonesia, para pesepeda akan singgah di 6 kebun raya yaitu Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, Kebon Raya Kuningan, Kebun Raya Baturaden, Kebun Raya Indrokilo dan Kebun Raya Purwodadi. Pesepeda juga akan melewati dan singgah di beberapa kota seperti Bandung, Tegal, Wonosobo, Boyolali, Ngawi dan Jombang.

Masih dalam rangkaian Jaga Bhumi, acara akan dilanjutkan dengan gelaran Jaga Bhumi Festival pada 29 Apil 2018. Festival bertema lingkungan ini akan diisi dengan berbagai kegiatan menarik, seperti Fun Walk yaitu jalan santai untuk menggalang dukungan terhadap kebun raya mangrove, Festival Bunga, pameran UKM dan pertunjukkan komunitas bertajuk Jaga Praja, permainan tradisional anak Indonesia dan lomba mewarnai bertajuk Jaga Cilik, olah raga dan senam zumba dalam Jaga Raga, pertunjukkan musik dalam Jaga Gita, dan Jaga Prakarsa berupa simbolis kebun raya mangrove Surabaya.

(*)