kebun raya baturraden

JAGA BHUMI (Baturraden) – Para pesepeda itu melintas di jalan yang kanan kirinya adalah rerimbunan berbagai jenis pohon. Mengenakan berkaos putih bertuliskan Jelajah Bhumi, kedelapan pesepeda mengayuh cukup kuat karena harus melewati jalanan yang menanjak. Tak ketinggalan para komunitas pesepeda dari Purwokerto dan Banyumas mengikuti mereka, hingga ke Kebun Raya Baturraden di Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) pada Sabtu (21/4).

Kebun Raya Baturraden yang menjadi salah satu kebun raya yang disinggahi para pesepeda dari Jelajah Bhumi berada pada ketinggian sekitar 600-700 meter di atas permukaan laut (mdpl), sehingga topografisnya cukup menantang. Dengan suhu berkisar antara 20-30 derajat Celcius, suasana relatif sejuk diantara rimbunnya pepohonan.

Para pesepeda yang mengikuti Jelajah Bhumi dalam etape ke-6 ini cukup terlihat begitu bersemangat. Mereka terdiri dari empat peserta putri dan putra. Peserta putri yakni Krisna Dewi, Trilara Prsetia Rina, Siti Maemunah dan Dhetoris Dewi Shinta. Sedangkan peserta pria adalah Meilana Dukut Elisdiarto, Dadan Sujana, Maulana Luqman dan Hamka Turnip.

Mereka mengungkapkan kalau jalur ke Kebun Raya Baturraden memiliki karakteristik tersendiri. Bahkan, salah seorang pesepeda berujar kalau “makadam” atau jalan yang berbeda-beda. Masing-masing “goweser” memiliki cara tersendiri bagaimana menaklukkan medannya. “Jadi kalau ditanya apa suka dukanya, kami tidak pernah berduka. Kami senantiasa bersuka,” ungkap salah seorang peserta pesepeda.

Saat memasuki Banyumas, khususnya Kebun Raya Baturraden, mereka bertambah semangat, karena sejumlah komunitas sepeda di Purwokerto dan Banyumas mengikuti mereka. Bahkan, sejak memasuki batas Kota Purwokerto sudah dijemput. Usai gathering, sejumlah anggota komunitas pesepeda di Banyumas ikut camping di kawasan Kebun Raya Baturraden bersama dengan para peserta Jelajah Bhumi.

Kepala Kebun Raya Baturraden Safrudin menyambut baik kegiatan Jelajah Bhumi yang mengunjungi dan menginap di Kawasan Kebun Raya Baturraden yang berada di lereng selatan Gunung Slamet. Kebun Raya Baturraden dengan luas 143,5 hektare (ha) cukup panjang. Inisiatif paling awal dilontarkan tahun 2011 ketika Megawati Soekarnoputri yang menjabat sebagai Wakil Presiden (Wapres) menutup Jambore Nasional Pramuka tahun 2001 di Bumi Perkemahan Baturraden.

Kemudian, pada 2002 dilakukan studi kelayakan. Tahun 2004, mulai dilakukan penanaman perdana serta adanya MoU Kepala Litbang Kehutanan dan Bupati Banyumas. Hasil nota kesepahaman dilanjutkan dengan penerbitan SK Menteri Kehutanan No. 85/Menhut-II/2005 tentang Penetapan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus untuk Hutan Penelitian dan Pengembangan serta Pendidikan Lingkungan dalam bentuk Kebun Raya Baturraden.

Kebun Raya Baturraden akhirnya diresmikan pada 19 Desember 2015 lalu. Uniknya, yang meluncurkan sama dengan penginisiasi yakni Megawati Soekarnoputri karena ia juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Kebun Raya Indonesia. Saat di luncurkan, turut hadir juga Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya.

“Saat ini koleksi yang kami punya sebanyak 77 jenis dan 3.392 spesimen. Yang paling khas di Baturraden adalah jenis kantong semar. Ada 7 jenis kantung semar khas yang kami miliki,”jelasnya.

Dengan tema Tumbuhan Pegunungan Jawa, ada 7 zonasi tumbunan. Di antaranya adalah Taman Liana, Taman Obat, Taman Paku, Taman Flora of Java dan lainnya. Taman-taman tersebut memiliki koleksi masing-masing tumbuhan sesuai dengan klasifikasinya. “Sampai sekarang, banyak yang datang ke Kebun Raya Baturraden dari sekadar ingin mencari udara segar sampai pada tempat penelitian. Semuanya kami terima dengan baik,” jelasnya.

Official Kegiatan Jelajah Bhumi Aris Yunanto mengungkapkan kalau Kebun Raya Baturraden menjadi salah satu kebun raya yang disinggahi touring sepeda Jelajah Bhumi. “Pada awal keberangkatan pada 12 April lalu, peserta sudah singgah di Kebun Raya Bogor, Cibodas dan Kuningan. Dan saat sekarang di Baturraden. Pada Minggu (22/4) pagi kami berangkat menuju Wonosobo. Nantinya, akan ke Boyolali, Purwodadi dan terakhir di Surabaya,” kata Aris.

Jelajah Bumi ini merupakan bagian dari gerakan Jaga Bhumi yang merupakan program dari Yayasan Kebun Raya Indonesia. “Jadi, selain mengunjungi kebun raya-kebun raya yang ada di Pulau Jawa, kami juga menggalang dukungan untuk pembangunan Kebun Raya Mangrove di Surabaya. Nantinya, (kebun raya tersebut) bakal menjadi kebun mangrove terluas di dunia,”ujarnya.

Dijelaskan oleh Aris, kunjungan ke kebun raya di Pulau Jawa juga sebagai kampanye keberadaan kebun raya kepada masyarakat luas. Bahwa kebun raya tidak hanya sebagai tempat wisata atau ekowisata, tetapi lebih dari itu dapat dimanfaatkan sebagai tempat pengumpulan keanekaragaman hayati, pendidikan konservasi dan penelitian.

(*)